KULTUR
JARINGAN TANAMAN KARET
(Hevea
brasiliensis)
Dalam kultur jaringan
tanaman, tabung/botol kultur ditutup rapat dengan penutup yang dilengkapi drat,
aluminium foil, parafilm atau plastik wrap. Kondisi tersebut menghambat
pertukaran udara dalam tabung kultur sehingga sering memberikan pengaruh
negatif terhadap pertumbuhan eksplan. Penggunaan penutup berventilasi dapat
meningkatkan kualitas udara dalam lingkungan tabung/botol kultur.
Oleh karena itu microbox
dengan penutup berfilter diuji sebagai wadah untuk menumbuhkan eksplan karet
pada tahap multiplikasi, yaitu microbox berfilter kuning dengan nilai Kv
sebesar 13,09 (Gas Exchange (GE)/hari dan berfilter hijau dengan nilai Kv
sebesar 81,35 GE/hari, sedangkan sebagai kontrol adalah microbox tanpa filter
(tertutup rapat).
Penelitian bertujuan
mengamati kondisi tunas di dalam microbox berfilter, meliputi morfologi,
stomata dan kandungan klorofil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tunas
tidak berbeda nyata pada masing-masing microbox. Jumlah daun baru dan daun
gugur berbeda nyata, dimana pembentukan daun baru terbanyak terdapat pada tunas
dalam microbox berfilter kuning maupun hijau. Ukuran dan warna daun terlihat
normal pada tunas dalam microbox berfilter hijau. Analisis kandungan klorofil
tidak menunjukkan perbedaan nyata, namun pengamatan visual menunjukkan bahwa
daun lebih hijau pada microbox dengan filter hijau. Kondisi stomata daun dari
tunas dalam microbox dengan penutup berfilter hijau menyerupai stomata tanaman
induk yang terdapat di rumah kaca dan lapangan, sedangkan kondisi stomata
berbeda ditemukan pada tunas dalam microbox berfilter kuning atau tanpa filter.
Pada lingkungan normal seperti lapangan dan
rumah kaca, sebagian besar stomata menutup, pada wadah dengan tutup berfilter
stomata agak membuka sedangkan pada microbox tanpa filter sebagian besar
stomata terbuka lebar.
Hevea brasiliensis adalah
spesies penting dalam genus Hevea karena merupakan sumber karet alam
yang banyak digunakan dalam industri, terutama industri otomotif. Permintaan
bahan tanam karet belakangan ini meningkat dengan tajam, baik untuk penanaman
ulang maupun penanaman baru, disebabkan membaiknya harga karet dan
meningkat-nya permintaan pasar.
Akan tetapi pemenuhan terhadap kebutuhan bahan
tanam tersebut relatif sulit disebabkan batang bawah yang berasal dari biji
sebagai salah satu komponen dalam penyediaan bibit karet tidak selalu tersedia.
Kendala utama adalah musim biji yang hanya berlangsung sekali dalam setahun dan
terbatasnya klon karet yang dapat digunakan sebagai sumber biji. Di samping
itu, terjadinya pergeseran musim juga mempengaruhi ketersediaan biji.
Untuk
penyediaan batang bawah karet, saat ini di Balai Penelitian Bioteknologi
Perkebunan Indonesia sedang dikembangkan cara perbanyakan klonal dengan
teknologi microcutting, yaitu
suatu teknik mikropropagasi berbasis kultur in vitro dengan menggunakan eksplan potongan batang muda yang
memiliki mata tunas aksiler (axillary
buds) (Nurhaimi-Haris et al., 2009a).
Keuntungan sistem
perbanyakan tersebut adalah tersedianya batang bawah tanpa dipengaruhi musim
biji serta tersedianya batang bawah dalam bentuk klon yang selama ini belum
pernah bisa dihasilkan pada tanaman karet. Penggunaan batang bawah klonal
diduga dapat meningkatkan keseragaman tanaman karet di lapangan sehingga akan
berdampak positif terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi lateks.
Di samping itu,
kemampuan melakukan perbanyakan batang bawah secara klonal membuka peluang
untuk menghasilkan batang bawah dengan karakteristik tertentu, seperti toleran
terhadap penyakit serta kondisi lingkungan yang kering. Meskipun perbanyakan
batang bawah karet dengan teknologi microcutting telah dapat dilakukan,
namun aplikasinya dalam skala besar masih ter-kendala. Penyebab utamanya adalah
banyaknya tanaman yang hilang akibat kontaminasi, rendahnya laju multiplikasi,
terjadinya kelainan morfologis dan fisiologis dari tanaman yang dihasilkan,
serta banyaknya tanaman yang mati dalam proses aklimatisasi. Semua kendala
tersebut menyebabkan biaya produksi per satuan bibit menjadi mahal.
Tanaman yang
ditumbuhkan secara in vitro biasanya diletakkan dalam tabung atau botol
kultur dengan tutup rapat untuk menghindari kontaminasi bakteri dan jamur serta
untuk menjaga kelembaban lingkungan kultur. Akan tetapi tutup yang rapat
tersebut sering mempengaruhi komposisi gas di dalam tabung/botol sehingga
menghambat pertumbuhan tanaman (Kitaya, 2005). Tutup tabung/botol seperti
aluminium foil, parafilm, plastik wrap atau tutup dengan drat menyebabkan
pertukaran gas terhambat antara di dalam dan di luar tabung/botol. Oleh karena
itu udara di dalam tabung/botol berbeda dengan udara ex vitro sehingga
sering menyebabkan malfungsi stomata, rendahnya kandungan klorofil,
memanjangnya daun serta hiperhidrasi. Kondisi yang demikian mengakibatkan laju
multiplikasi dan daya hidup tanaman menjadi rendah.
Untuk
meningkatkan kualitas udara dan meminimalkan perbedaan udara di dalam dan di
luar lingkungan kultur dapat digunakan wadah kultur yang dilengkapi dengan ventilasi.
Penggunaan ventilasi biasanya merupakan bagian dari mikro-propagasi
fotoautropik, yaitu suatu sistem mikro-propagasi yang memanfaatkan bahan
anorganik endogen untuk memenuhi kebutuhan tanaman dengan menggunakan cahaya
sebagai sumber energi (Kozai & Kubota, 2005).
Salah satu wadah
kultur dengan ventilasi adalah ”the full-gas microbox” karena tutup box
dilengkapi dengan berbagai ukuran filter sehingga memungkinkan terjadinya
pertukaran udara (gas exchange) secara pasif ke dalam maupun ke luar
lingkungan kultur. Ventilasi tersedia dalam empat macam nilai Kv (koefisien
nilai pertukaran gas per unit waktu) yang ditandai dengan warna filter putih,
kuning, merah dan hijau. Filter kuning dan hijau digunakan dalam penelitian ini
karena perbedaan nilai Kv yang cukup signifikan. Dengan adanya pertukaran udara
melalui filter, diduga pertumbuhan tunas karet akan lebih baik. Tujuan
penelitian adalah mengetahui pengaruh penggunaan microbox berventilasi (tutup
microbox dilengkapi filter kuning dan hijau) terhadap pertumbuhan tunas karet
dalam proses kultur in vitro, meliputi morfologi tunas, stomata dan
kadar klorofil daun.
No comments:
Post a Comment