Total Pageviews

Tuesday, 14 May 2013

Kultur Jaringan Bibit Jati (Hevea brasiliensis)


KULTUR JARINGAN TANAMAN KARET
(Hevea brasiliensis)


Dalam kultur jaringan tanaman, tabung/botol kultur ditutup rapat dengan penutup yang dilengkapi drat, aluminium foil, parafilm atau plastik wrap. Kondisi tersebut menghambat pertukaran udara dalam tabung kultur sehingga sering memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan eksplan. Penggunaan penutup berventilasi dapat meningkatkan kualitas udara dalam lingkungan tabung/botol kultur.

Oleh karena itu microbox dengan penutup berfilter diuji sebagai wadah untuk menumbuhkan eksplan karet pada tahap multiplikasi, yaitu microbox berfilter kuning dengan nilai Kv sebesar 13,09 (Gas Exchange (GE)/hari dan berfilter hijau dengan nilai Kv sebesar 81,35 GE/hari, sedangkan sebagai kontrol adalah microbox tanpa filter (tertutup rapat). 

Penelitian bertujuan mengamati kondisi tunas di dalam microbox berfilter, meliputi morfologi, stomata dan kandungan klorofil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tunas tidak berbeda nyata pada masing-masing microbox. Jumlah daun baru dan daun gugur berbeda nyata, dimana pembentukan daun baru terbanyak terdapat pada tunas dalam microbox berfilter kuning maupun hijau. Ukuran dan warna daun terlihat normal pada tunas dalam microbox berfilter hijau. Analisis kandungan klorofil tidak menunjukkan perbedaan nyata, namun pengamatan visual menunjukkan bahwa daun lebih hijau pada microbox dengan filter hijau. Kondisi stomata daun dari tunas dalam microbox dengan penutup berfilter hijau menyerupai stomata tanaman induk yang terdapat di rumah kaca dan lapangan, sedangkan kondisi stomata berbeda ditemukan pada tunas dalam microbox berfilter kuning atau tanpa filter.

 Pada lingkungan normal seperti lapangan dan rumah kaca, sebagian besar stomata menutup, pada wadah dengan tutup berfilter stomata agak membuka sedangkan pada microbox tanpa filter sebagian besar stomata terbuka lebar.

Hevea brasiliensis adalah spesies penting dalam genus Hevea karena merupakan sumber karet alam yang banyak digunakan dalam industri, terutama industri otomotif. Permintaan bahan tanam karet belakangan ini meningkat dengan tajam, baik untuk penanaman ulang maupun penanaman baru, disebabkan membaiknya harga karet dan meningkat-nya permintaan pasar.

 Akan tetapi pemenuhan terhadap kebutuhan bahan tanam tersebut relatif sulit disebabkan batang bawah yang berasal dari biji sebagai salah satu komponen dalam penyediaan bibit karet tidak selalu tersedia. Kendala utama adalah musim biji yang hanya berlangsung sekali dalam setahun dan terbatasnya klon karet yang dapat digunakan sebagai sumber biji. Di samping itu, terjadinya pergeseran musim juga mempengaruhi ketersediaan biji. 

Untuk penyediaan batang bawah karet, saat ini di Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia sedang dikembangkan cara perbanyakan klonal dengan teknologi microcutting, yaitu suatu teknik mikropropagasi berbasis kultur in vitro dengan menggunakan eksplan potongan batang muda yang memiliki mata tunas aksiler (axillary buds) (Nurhaimi-Haris et al., 2009a). 

Keuntungan sistem perbanyakan tersebut adalah tersedianya batang bawah tanpa dipengaruhi musim biji serta tersedianya batang bawah dalam bentuk klon yang selama ini belum pernah bisa dihasilkan pada tanaman karet. Penggunaan batang bawah klonal diduga dapat meningkatkan keseragaman tanaman karet di lapangan sehingga akan berdampak positif terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi lateks.

Di samping itu, kemampuan melakukan perbanyakan batang bawah secara klonal membuka peluang untuk menghasilkan batang bawah dengan karakteristik tertentu, seperti toleran terhadap penyakit serta kondisi lingkungan yang kering. Meskipun perbanyakan batang bawah karet dengan teknologi microcutting telah dapat dilakukan, namun aplikasinya dalam skala besar masih ter-kendala. Penyebab utamanya adalah banyaknya tanaman yang hilang akibat kontaminasi, rendahnya laju multiplikasi, terjadinya kelainan morfologis dan fisiologis dari tanaman yang dihasilkan, serta banyaknya tanaman yang mati dalam proses aklimatisasi. Semua kendala tersebut menyebabkan biaya produksi per satuan bibit menjadi mahal. 

Tanaman yang ditumbuhkan secara in vitro biasanya diletakkan dalam tabung atau botol kultur dengan tutup rapat untuk menghindari kontaminasi bakteri dan jamur serta untuk menjaga kelembaban lingkungan kultur. Akan tetapi tutup yang rapat tersebut sering mempengaruhi komposisi gas di dalam tabung/botol sehingga menghambat pertumbuhan tanaman (Kitaya, 2005). Tutup tabung/botol seperti aluminium foil, parafilm, plastik wrap atau tutup dengan drat menyebabkan pertukaran gas terhambat antara di dalam dan di luar tabung/botol. Oleh karena itu udara di dalam tabung/botol berbeda dengan udara ex vitro sehingga sering menyebabkan malfungsi stomata, rendahnya kandungan klorofil, memanjangnya daun serta hiperhidrasi. Kondisi yang demikian mengakibatkan laju multiplikasi dan daya hidup tanaman menjadi rendah.

Untuk meningkatkan kualitas udara dan meminimalkan perbedaan udara di dalam dan di luar lingkungan kultur dapat digunakan wadah kultur yang dilengkapi dengan ventilasi. Penggunaan ventilasi biasanya merupakan bagian dari mikro-propagasi fotoautropik, yaitu suatu sistem mikro-propagasi yang memanfaatkan bahan anorganik endogen untuk memenuhi kebutuhan tanaman dengan menggunakan cahaya sebagai sumber energi (Kozai & Kubota, 2005). 

Salah satu wadah kultur dengan ventilasi adalah ”the full-gas microbox” karena tutup box dilengkapi dengan berbagai ukuran filter sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran udara (gas exchange) secara pasif ke dalam maupun ke luar lingkungan kultur. Ventilasi tersedia dalam empat macam nilai Kv (koefisien nilai pertukaran gas per unit waktu) yang ditandai dengan warna filter putih, kuning, merah dan hijau. Filter kuning dan hijau digunakan dalam penelitian ini karena perbedaan nilai Kv yang cukup signifikan. Dengan adanya pertukaran udara melalui filter, diduga pertumbuhan tunas karet akan lebih baik. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh penggunaan microbox berventilasi (tutup microbox dilengkapi filter kuning dan hijau) terhadap pertumbuhan tunas karet dalam proses kultur in vitro, meliputi morfologi tunas, stomata dan kadar klorofil daun.

No comments:

Post a Comment