Total Pageviews

Tuesday, 4 February 2014

BUDIDAYA SAYURAN RAMAH LINGKUNGAN





BUDIDAYA SAYURAN RAMAH LINGKUNGAN

Usaha budidaya sayuran ramah lingkungan adalah usaha budidaya yang dilakukan dengan prinsip tidak merusak lingkungan dan mencemari lingkungan terkait dengan aspek pemanfaatan sumber daya alam, pembuangan limbah dan keamanan lingkungan sekitarnya.Pengelolaan budidaya sayuran yang ramah lingkungan yang diwujudkan dalam penerapan konsep pengeloaan yang tepat adalah jalan keluar dalam untuk mewujudkan usaha tani sayuran yang ramah lingkungan (Direktorat Budidaya Sayuran dan Biofarmaka, 2006 ).
Perkembangan ekonomi global dan regional menuntut petani khususnya petani sayuran untuk melakukan usaha tani tidak hanya mendapatkan produksi tinggi tetapi juga harus mempertimbangkan kualitas produksi dan dukungan usaha taninya. Hal ini karena semakin besarnya keinginan konsumen akan produk sayuran yang bermutu dengan tingkat keamanan pangan yang tinggi serta meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang pelestarian lingkungan. Pengelolaan tanaman terpadu adalah sebuah upaya untuk membuat tanaman tumbuh sehat sehingga dapat meningkatkan ketahananya terhadap serangan OPT mulai tanam sampai dengan kegiatan pasca panen.
Beberapa komponen yang dilakukan dalam rangka mengelola pertanaman sayuran yang ramah lingkungan adalah :
A.   Pengolahan Tanah
Langkah awal yang dapat diambil sebelum berusaha tani sayuran adalah pemilihan lahan yang sesuai untuk bercocok tanam sayuran. Pengolahan tanah dilakukan dengan jalan membalikan tanah agar dapat terpapar sinar matahari sehingga dapat mematikan beberapa OPT yang tersisa dari pertanaman sebelumnya.Sistem Drainase lahan harus diatur dengan baik, pembuatan guludan dengan tinggi tertentu dapat mengurangi serangan OPT , pemberiaan mulsa dapat meminilkan OPT dan dapat menjaga kesuburan tanah.Pengapuran pada tanah sangat diperlukan untuk memperbaiki pH tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan sehat.
B.   Sanitasi
Membersihkan sisa-sisa pertanaman sebelumnya dari tumbuhan pengganggu .


C.   Pemilihan Varietas yang Tepat
Hal ini dilakukan diantaranya dengan pemilihan varietas tanaman yang cocok di tanam pada untuk musim tanam tertentu,lokasi tertentu,serta toleran terhadap serangan OPT. Penggunaan benih bersertifikat dan bebas OPT juga harus di perhatikan.
D.   Persemaian yang tepat
Persemaian harus dilakukan dengan tepat, media persemian harus di sterilkan, sehingga tanaman tidak terserang HPT an hal ini dapat mengurangi penggunaan Pestisida untuk pengendalian HPT tersebut.
E.   Pemilihan Musim Tanam Yang Tepat
Pemilihan musim tanam yang tepat sangat membantu dalam melakukan pertanaman sayuran, apabila dilakukan pada musim tanam yang tidak tepat dapat meningkatkan populasi OPT tinggi dan petani harus mengeluarkan biaya untuk membeli pestisida serta akan mengacu pada penggunaan Pestisida dalam dosis banyak.
F.     Pola Tanam Yang Tepat
Pertanaman monokultur dapat mengurangi keanekaragaman organisme diekosistem pertanian, sehingga mengganggu kestabilan ekosistem pertanian. Pengembangan pertanaman polikultur (Tumpangsari) dapat dilakukan untuk meningkatkan keanekaragaman organisme diekosistem pertanian. Sistem pertanaman tumpangsari diharapkan dapat menjadi sarana untuk konservasi sehingga dapat membantu petani melakukan pengendalian OPT secara alami.
G.   Rotasi Tanaman
Rotasi tanaman merupakan salah satu cara untuk memutus siklus hidup OPT dan dapat dilakukan pada hamparan seluas mungkin. Dalam Hal ini berarti kita telah mengurangi penggunaan pestisida untuk pengendalian OPT.
H.   Pemupukan yang Tepat
Semakin intensifnya usaha tani disuatu lahan pertanian juga dapat merusak kesuburan tanah itu sendiri. Apalagi bila penggunaan pupuk tidak dalam dosis yang tepat (berlebihan).


I.         Jarak Tanam yang Tepat
Pemilihan jarak tanam yang tepat akan membantu mengurangi kompetisi antar tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan sehat dan lebih tahan terhadap serangan OPT. Penetapan Jarak tanam juga dapat digunakan sebagai cara untuk menciptakan kondisi iklim mikro yang sesuai untuk perkembangan OPT.
J.     Penanaman Tanaman Perangkap
Tanaman perangkap merupakan tanaman yang ditanam di sekitar tanaman utama dengan tujuan untuk mencegah masuknya OPT kedalam pertanaman.
K.    Penanganan Pasca Panen
Penanganan pasca panen juga harus dilakukan secara tepat karena dapat mempengaruhi perkembangan OPT pasca panen, guna dapat misahkan produk yang sehat dan yang tidak sehat.

Sumber :
Departemen Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Balai Penelitian Tanaman Sayuran.



Tugas Kelas IV



Kultur Jaringan Skala Rumah Tangga

Tugas 1           : Pembuatan Media Kultur Jaringan
Nama              : Pratama Panji Prasetyo
Kelas               : 4 ATP 2
NIS                 : 7200

PEMBUATAN MEDIA

            Media merupakanfaktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung jenis tanaman yang akan diperbanyak. media yang digunakan biasanya terdiri atas garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu diperlukan juga bahan tambahan seperti agar-agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenis maupun jumlahnya, tergantung tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol kaca. Media juga harus disterilkan dengan memanaskannya dengan autoklaf.
            Alat-alat untuk pembuatan media kultur jaringan memang mahal, namun merupakan investasi yang cukup bagus. Jika kita akan melakukan kultur jaringan dan hanya memiliki sedikit modal maka kita dapat membeli media buatan yang sudah jadi. Sejumlah laboratorium universitas, misalnya Laboratorium Kultur Jaringan Tambahan Fakultas Biologi UGM. Jika ingin membuat media yang murah meriah maka kita dapat menggunakan pupuk majemuk yang mengandung sejumlah unsur hara yang diperlukan tanaman dengan menambahkan agar-agar untuk menumbuhkan tanaman. Sterilisasi dapat dilakukan dengan panci presto, bahkan dandang. Meski hasilnya tidak sebagus cara modern, namun cukup membantu.
            Sejumlah bahan alami dapat digunakan untuk mengganti bahan kimia untuk kultur jaringan, diantaranya air kelapa, yang bisa digunakan untuk kultur jaringan pada anggrek. Air kelapa memang tidak bisa langsung digunakan sebagai media untuk kultur jaringan pada anggrek. Komposisi untuk media anggrek dan kultur jaringan berbeda. Berbagai penelitian menunjukan bahwa takaran air kelapa yang baik adalah 150 ml air kelapa per liter media. KNO3 murni yang harganya mahal bisa diganti dengan pupuk NPK yang mudah ditemukan di toko pertanian. Unsur Makro, Unsur Mikro, Vitamin sumber energi, bahan organik seperti asam amino dan asam lemak, pemadat serta hormon.
Untuk menghemat biaya, pisang ambon juga dapat digunakan sebagai bahan media kultur jaringan. Pisang ambon mengandung karbohidrat berenergi tinggi. Setiap 100 gram berat kering pisang engandung energi 136 kalori. Tauge mengandung anti oksidan, Vitamin E, Kanavalin – jenis asam amino, dan hormon auksin. Sementara buncis mengandung protein, karbohidrat, vitamin, serat kasar, dan mineral. Namun yang paling penting dari buncis adalah kandungan sitokininnya yang mampu memacu pertumbuhan tunas.
Kerapatan botol kultur jaringan harus diperhatikan. Selapis penutup plastik tak bisa menahan tekanan dari luar yang cukup besar. Karet gelang pun akan memuai jika terkena panas sehingga 2 karet gelang tak cukup kencang untuk mengikat plastik penutup botol. Bila memuai, ikatan akan mengendor sehingga bakteri akan masuk dan beranak pinak dalam botol yang kaya hara. Idealnya digunakan 5 lapis plastik transparan dengan 50 karet gelang untuk mengikatnya. Setelah tumbuh besar maka yang harus dilakukan adalah mengeluarkan bibit tanaman dari botol dan kemudian menanamnya secara berkelompok dengan media campuran arang sekam dan cocopeat.

Cara membuat media kultur jaringan dari bahan organik adalah sebagai berikut:

1.      Siapkan bahan yang brupa 500 ml air dalam gelas piala, air kelapa muda, 2 gram pupuk kandang seimbang (Hiponex, Grandasil D, atau Vitabloom D), 20 gram gula pasir, dan 1 bungkus agar-agar 7 sampai 8 gram.
2.      Masukkan pupuk, gula, dan agar-agar ke dalam gelas piala berisi 500 ml air, satu per satu, lalu aduk hingga rata.
3.      Tambahkan air kelapa hingga campuran mencapai 1 liter.
4.      Tuangkan media ke dalam botol kultur (tabung reaksi). Botol kecil sebanyak 10 ml, botol selai sebanyak 20 ml, botol saus sebanyak 35 ml.
5.      Tutup botol dengan plastik dan karet.
6.      Masukkan botol berisi media ke dalam autoklaf dengan suhu hingga 121 °C dan tekanan 1,5 ATM selama 25 menit. Matikan kompor dan tunggu hingga kembali ke tekanan dan suhu kamar.
7.      Keluarkan botol lalu simpan di tempat yang sejuk untuk penanaman eksplan.

Catatan:
Untuk membuat media akar dan tunas, ganti bahan dengan 500 ml air dalam gelas piala, 150 ml air kelapa muda, 2 gram pupuk seimbang, 20 gram gula pasir, 1 bungkus agar-agar 7 sampai 8 gram, dan 500 gram tauge, buncis, kentang, atau ubi.
Blender tauge lalu saring dengan kain dan ambil airnya untuk media penumbuhan akar. Untuk menumbuhkan tunas, ganti tauge dengan buncis, kentang atau ubi.


Tugas 2           : Pengambilan Eksplan (Inisiasi)
Nama              : Pratama Panji Prasetyo
Kelas               : 4 ATP 2
NIS                 : 7200

PENGAMBILAN EKSPLAN (Inisiasi)

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.
Ada beberapa tipe jaringan yang di gunakan sebagai eksplan dalam pengerjaan kultur jaringan:
Pertama adalah jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe pertama ini bisa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar, maupun kambium batang.
            Kedua adalah jaringan parenkima, yaitu jaringan penyusun tanaman muda yang sudah mengalami diferensiasi dan menjalankan fungsinya. Contoh jaringan tersebut adalah jaringan daun yang sudah berfotosistesis dan jaringan batang atau akar yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan.

Eksplan sendiri adalah bagian tanaman yang dipakai untuk bahan budidaya atau kultur jaringan. Eksplan yang baik adalah :
a.      Bagian tanaman yang masih muda
b.      Diambil dari tanaman yang tumbuh subur dan sehat
c.       Dinding sel amsih tipis dan belum berpembuluh kayu
d.      Bersifat  merismatik atau meristemoid.

Segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, dalam laboratorium sederhana, kultur jaringan dapat dilakukan di entkas, yaitu tabung kaca dengan lubang untuk memasukan tangan. Agar steril, ke dalam entkas itu diletakkan tablet formalin 24 jam sebelum dipakai. Alat ini bisa dipesan di tempat pembuatan aquarium. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu dengan menggunakan etanol yang disemprotkansecara merata pada peralatan yang akan digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan pun harus steril.
Sebagai sumber utama kontaminan, eksplan memiliki perlakuan khusus pada proses sterilisasinya. Diantranya adalah pencucian dengan menggunakan deterjen ditujukan untuk menghilangkan sisia-sisa tanah pada umbi eksplan. Selanjutnya di rendam dalam alcohol untuk menghilangkan atau membunuh kuman. Selanjutnya dicelupkan pada larutan klorok untuk membunuh mikroba terutama yang ada di bagian dalam eksplan. Digunakan pula fungisida untuk membunuh spora ataupun cendawan yang diperkirakan ada pada eksplan.

Tugas 3           : Penanaman Kultur Jaringan (Multiplikasi)
Nama              : Pratama Panji Prasetyo
Kelas               : 4 ATP 2
NIS                 : 7200

Penanaman Kultur Jaringan (Multiplikasi)
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak bibit tanaman dengan menanam eksplan pada media. Di dalam laboratorium sederhana kegiatan ini dilakukan di dalam entkas untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami eksplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.
Dan kegiatan selanjutnya dalam memperbanyak bibit tanaman adalah pengakaran. Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan oleh jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).


Tugas 4           : Aklimatisasi
Nama              : Pratama Panji Prasetyo
Kelas               : 4 ATP 2
NIS                 : 7200

Aklimatisasi

Aklimatisasi merupakan suatu upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi dari suatu organisme terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasukinya. Hal ini didasarkan pada kemampuan organisme untuk dapat mengatur morfologi, perilaku, dan jalur metabolisme biokimia di dalam tubuhnya untuk menyesuaikannya dengan lingkungan. Beberapa kondisi yang pada umumnya disesuaikan adalah suhu lingkungan, derajat keasaman (pH), dan kadar oksigen. Proses penyesuaian ini berlangsung dalam waktu yang cukup bervariasi tergantung dari jauhnya perbedaan kondisi antara lingkungan baru yang akan dihadapi, dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
Di dalam konteks kultur jaringan, aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.
Karena berbagai keunggulannya, banyak produsen bibit yang kemudian tertarik untuk mengembangkan usaha kultur jaringan. Terlebih karena bibit hasil kultur jaringan juga mampu tumbuh dengan baik. Bahkan jati hasil kultur jaringan, yang sering disebut dengan jati emas, dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek dibanding tanaman jati yang berasal dari benih generatif hal seperti itu tentu sangat menguntungkan karena hasilnya dapat lebih cepat diperoleh.


Tugas 5           : Pemeliharaan Tanaman Hasil Kultur Jaringan
Nama              : Pratama Panji Prasetyo
Kelas               : 4 ATP 2
NIS                 : 7200

Pemeliharaan Tanaman Hasil Kultur Jaringan
            Berikut ini merupakan contoh cara menanam dan memelihara salah satu tanaman hasil kultur jaringan. Contoh kali ini adalah tanaman anggrek. Untuk tanaman lain cara menanamnya sama, hanya perlu mengembangkan dan menyesuaikannya sendiri sesuaikarakteristik tanaman.
1.      Buka tutup botol hasil kultur jaringan dan kemudian isi dengan air bersih sampai penuh.
2.      Bibit anggrek dikeluarkan satu per satu menggunakan kawat yang bersih yang salah satu ujungnya bengkok, sehingga dapat digunakan untuk menggaet akarnya. Supaya daun tidak putus, tarik akarnya terlebih dahulu.
3.      Bibit anggrek dicuci sampai bersih. Jika perlu, bilas beberapa kali sampai sisa agar-agar (media) yang masih menempel pada akar hilang, hal ini dilakukan karena sisa agar-agar dapat mengundang bakteri dan jamur yang dapat menyebabkan bibit busuk.
4.      Bibit yang telah bersih direndam dalam larutan fungisida selama 10 menit untuk mencegah timbulnya jamur. Bibit kemudian dikeringkan diatas koran, diatur rapi, dan dikelompokkan sesuai ukurannya.
5.      Isi pot terlebih dahulu dengan arang atau pecahan batu bata, kira-kira sampai 1/3 tinggi pot.
6.      Tambahkan cincangan pakis setebal 1- 2 cm.
7.      Atur tanaman anggrek berderet-deret di atas pakis. Jangan sampai bukbus atau pseudobulb tertutup pakis.
8.      Letakkan po pada rak yang terlindung dari air hujan dan cahaya matahari langsung.