Kultur Jaringan Skala Rumah Tangga
Tugas
1 : Pembuatan Media Kultur
Jaringan
Nama :
Pratama Panji Prasetyo
Kelas :
4 ATP 2
NIS :
7200
PEMBUATAN MEDIA
Media merupakanfaktor penentu dalam perbanyakan
dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung jenis tanaman
yang akan diperbanyak. media yang digunakan biasanya terdiri atas garam
mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu diperlukan juga bahan tambahan seperti
agar-agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan
juga bervariasi, baik jenis maupun jumlahnya, tergantung tujuan dari kultur
jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi
atau botol kaca. Media juga harus disterilkan dengan memanaskannya dengan
autoklaf.
Alat-alat untuk pembuatan media
kultur jaringan memang mahal, namun merupakan investasi yang cukup bagus. Jika
kita akan melakukan kultur jaringan dan hanya memiliki sedikit modal maka kita
dapat membeli media buatan yang sudah jadi. Sejumlah laboratorium universitas,
misalnya Laboratorium Kultur Jaringan Tambahan Fakultas Biologi UGM. Jika ingin
membuat media yang murah meriah maka kita dapat menggunakan pupuk majemuk yang
mengandung sejumlah unsur hara yang diperlukan tanaman dengan menambahkan
agar-agar untuk menumbuhkan tanaman. Sterilisasi dapat dilakukan dengan panci
presto, bahkan dandang. Meski hasilnya tidak sebagus cara modern, namun cukup
membantu.
Sejumlah bahan alami dapat digunakan
untuk mengganti bahan kimia untuk kultur jaringan, diantaranya air kelapa, yang
bisa digunakan untuk kultur jaringan pada anggrek. Air kelapa memang tidak bisa
langsung digunakan sebagai media untuk kultur jaringan pada anggrek. Komposisi
untuk media anggrek dan kultur jaringan berbeda. Berbagai penelitian menunjukan
bahwa takaran air kelapa yang baik adalah 150 ml air kelapa per liter media.
KNO3 murni yang harganya mahal bisa diganti dengan pupuk NPK yang
mudah ditemukan di toko pertanian. Unsur Makro, Unsur Mikro, Vitamin sumber
energi, bahan organik seperti asam amino dan asam lemak, pemadat serta hormon.
Untuk
menghemat biaya, pisang ambon juga dapat digunakan sebagai bahan media kultur
jaringan. Pisang ambon mengandung karbohidrat berenergi tinggi. Setiap 100 gram
berat kering pisang engandung energi 136 kalori. Tauge mengandung anti oksidan,
Vitamin E, Kanavalin – jenis asam amino, dan hormon auksin. Sementara buncis
mengandung protein, karbohidrat, vitamin, serat kasar, dan mineral. Namun yang
paling penting dari buncis adalah kandungan sitokininnya yang mampu memacu
pertumbuhan tunas.
Kerapatan
botol kultur jaringan harus diperhatikan. Selapis penutup plastik tak bisa
menahan tekanan dari luar yang cukup besar. Karet gelang pun akan memuai jika
terkena panas sehingga 2 karet gelang tak cukup kencang untuk mengikat plastik
penutup botol. Bila memuai, ikatan akan mengendor sehingga bakteri akan masuk
dan beranak pinak dalam botol yang kaya hara. Idealnya digunakan 5 lapis
plastik transparan dengan 50 karet gelang untuk mengikatnya. Setelah tumbuh
besar maka yang harus dilakukan adalah mengeluarkan bibit tanaman dari botol
dan kemudian menanamnya secara berkelompok dengan media campuran arang sekam
dan cocopeat.
Cara
membuat media kultur jaringan dari bahan organik adalah sebagai berikut:
1.
Siapkan bahan yang brupa 500 ml air
dalam gelas piala, air kelapa muda, 2 gram pupuk kandang seimbang (Hiponex,
Grandasil D, atau Vitabloom D), 20 gram gula pasir, dan 1 bungkus agar-agar 7
sampai 8 gram.
2.
Masukkan pupuk, gula, dan agar-agar ke
dalam gelas piala berisi 500 ml air, satu per satu, lalu aduk hingga rata.
3.
Tambahkan air kelapa hingga campuran
mencapai 1 liter.
4.
Tuangkan media ke dalam botol kultur
(tabung reaksi). Botol kecil sebanyak 10 ml, botol selai sebanyak 20 ml, botol
saus sebanyak 35 ml.
5.
Tutup botol dengan plastik dan karet.
6.
Masukkan botol berisi media ke dalam
autoklaf dengan suhu hingga 121 °C dan tekanan 1,5 ATM selama 25 menit. Matikan
kompor dan tunggu hingga kembali ke tekanan dan suhu kamar.
7.
Keluarkan botol lalu simpan di tempat
yang sejuk untuk penanaman eksplan.
Catatan:
Untuk
membuat media akar dan tunas, ganti bahan dengan 500 ml air dalam gelas piala,
150 ml air kelapa muda, 2 gram pupuk seimbang, 20 gram gula pasir, 1 bungkus
agar-agar 7 sampai 8 gram, dan 500 gram tauge, buncis, kentang, atau ubi.
Blender
tauge lalu saring dengan kain dan ambil airnya untuk media penumbuhan akar.
Untuk menumbuhkan tunas, ganti tauge dengan buncis, kentang atau ubi.
Tugas
2 : Pengambilan Eksplan (Inisiasi)
Nama :
Pratama Panji Prasetyo
Kelas :
4 ATP 2
NIS :
7200
PENGAMBILAN EKSPLAN (Inisiasi)
Inisiasi
adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian
tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.
Ada beberapa
tipe jaringan yang di gunakan sebagai eksplan dalam pengerjaan kultur jaringan:
Pertama
adalah jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah
(meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe
pertama ini bisa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun,
ujung akar, maupun kambium batang.
Kedua
adalah jaringan parenkima, yaitu jaringan penyusun tanaman muda yang sudah
mengalami diferensiasi dan menjalankan fungsinya. Contoh jaringan tersebut
adalah jaringan daun yang sudah berfotosistesis dan jaringan batang atau akar
yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan.
Eksplan
sendiri adalah bagian tanaman yang dipakai untuk bahan budidaya atau kultur
jaringan. Eksplan yang baik adalah :
a.
Bagian tanaman yang masih muda
b.
Diambil dari tanaman yang tumbuh subur dan sehat
c.
Dinding sel amsih tipis dan belum berpembuluh kayu
d.
Bersifat
merismatik atau meristemoid.
Segala
kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, dalam
laboratorium sederhana, kultur jaringan dapat dilakukan di entkas, yaitu tabung
kaca dengan lubang untuk memasukan tangan. Agar steril, ke dalam entkas itu
diletakkan tablet formalin 24 jam sebelum dipakai. Alat ini bisa dipesan di
tempat pembuatan aquarium. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu
dengan menggunakan etanol yang disemprotkansecara merata pada peralatan yang
akan digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan pun harus steril.
Sebagai
sumber utama kontaminan, eksplan memiliki perlakuan khusus pada proses
sterilisasinya. Diantranya adalah pencucian dengan menggunakan deterjen
ditujukan untuk menghilangkan sisia-sisa tanah pada umbi eksplan. Selanjutnya
di rendam dalam alcohol untuk menghilangkan atau membunuh kuman. Selanjutnya
dicelupkan pada larutan klorok untuk membunuh mikroba terutama yang ada di
bagian dalam eksplan. Digunakan pula fungisida untuk membunuh spora ataupun
cendawan yang diperkirakan ada pada eksplan.
Tugas
3 : Penanaman Kultur Jaringan
(Multiplikasi)
Nama :
Pratama Panji Prasetyo
Kelas :
4 ATP 2
NIS :
7200
Penanaman Kultur Jaringan (Multiplikasi)
Multiplikasi adalah kegiatan
memperbanyak bibit tanaman dengan menanam eksplan pada media. Di dalam
laboratorium sederhana kegiatan ini dilakukan di dalam entkas untuk menghindari
adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi
yang telah ditanami eksplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat
yang steril dengan suhu kamar.
Dan kegiatan selanjutnya dalam
memperbanyak bibit tanaman adalah pengakaran. Pengakaran adalah fase dimana
eksplan akan menunjukan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses
kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan
setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat
adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan
menunjukan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan oleh jamur) atau
busuk (disebabkan bakteri).
Tugas
4 : Aklimatisasi
Nama :
Pratama Panji Prasetyo
Kelas :
4 ATP 2
NIS :
7200
Aklimatisasi
Aklimatisasi merupakan suatu upaya penyesuaian fisiologis
atau adaptasi
dari suatu organisme
terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasukinya. Hal ini didasarkan pada
kemampuan organisme untuk dapat mengatur morfologi,
perilaku, dan jalur metabolisme biokimia
di dalam tubuhnya
untuk menyesuaikannya dengan lingkungan. Beberapa kondisi yang pada umumnya
disesuaikan adalah suhu
lingkungan, derajat keasaman (pH), dan kadar oksigen.
Proses penyesuaian ini berlangsung dalam waktu yang cukup bervariasi tergantung
dari jauhnya perbedaan kondisi antara lingkungan baru yang akan dihadapi, dapat
berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
Di dalam konteks kultur jaringan, aklimatisasi
adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng.
Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan
sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan
hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap
serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan
lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan
bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.
Karena berbagai keunggulannya,
banyak produsen bibit yang kemudian tertarik untuk mengembangkan usaha kultur
jaringan. Terlebih karena bibit hasil kultur jaringan juga mampu tumbuh dengan
baik. Bahkan jati hasil kultur jaringan, yang sering disebut dengan jati emas,
dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek dibanding tanaman
jati yang berasal dari benih generatif hal seperti itu tentu sangat
menguntungkan karena hasilnya dapat lebih cepat diperoleh.
Tugas
5 : Pemeliharaan Tanaman Hasil
Kultur Jaringan
Nama :
Pratama Panji Prasetyo
Kelas :
4 ATP 2
NIS :
7200
Pemeliharaan Tanaman Hasil Kultur
Jaringan
Berikut
ini merupakan contoh cara menanam dan memelihara salah satu tanaman hasil
kultur jaringan. Contoh kali ini adalah tanaman anggrek. Untuk tanaman lain
cara menanamnya sama, hanya perlu mengembangkan dan menyesuaikannya sendiri
sesuaikarakteristik tanaman.
1. Buka tutup
botol hasil kultur jaringan dan kemudian isi dengan air bersih sampai penuh.
2. Bibit
anggrek dikeluarkan satu per satu menggunakan kawat yang bersih yang salah satu
ujungnya bengkok, sehingga dapat digunakan untuk menggaet akarnya. Supaya daun
tidak putus, tarik akarnya terlebih dahulu.
3. Bibit
anggrek dicuci sampai bersih. Jika perlu, bilas beberapa kali sampai sisa
agar-agar (media) yang masih menempel pada akar hilang, hal ini dilakukan
karena sisa agar-agar dapat mengundang bakteri dan jamur yang dapat menyebabkan
bibit busuk.
4. Bibit yang
telah bersih direndam dalam larutan fungisida selama 10 menit untuk mencegah
timbulnya jamur. Bibit kemudian dikeringkan diatas koran, diatur rapi, dan
dikelompokkan sesuai ukurannya.
5. Isi pot
terlebih dahulu dengan arang atau pecahan batu bata, kira-kira sampai 1/3
tinggi pot.
6. Tambahkan
cincangan pakis setebal 1- 2 cm.
7. Atur tanaman
anggrek berderet-deret di atas pakis. Jangan sampai bukbus atau pseudobulb
tertutup pakis.
8. Letakkan po
pada rak yang terlindung dari air hujan dan cahaya matahari langsung.
No comments:
Post a Comment